Sejarah dan Perkembangan
- Sabtu, 25 Juli 2020
- Administrator
- 0 komentar
Sejarah dan Perkembangan MA Walisongo Pecangaan
Sejarah berdirinya MA Walisongo Pecangaan tidak dapat dipisahkan dari pendirian lembaga pendidikan Nahdlatul Ulama pada tanggal 5 Agustus 1965, yaitu Muallimin NU. Lembaga ini menjadi cikal bakal bagi seluruh satuan pendidikan yang kini dikelola oleh Yayasan Walisongo, meliputi Madrasah Diniyah Awwaliyah, Wustho, Ulya, MTs, MA, MAK, SLTP, SMU, dan SMK.
Pada awal berdirinya, Muallimin NU menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar di Gedung Koperasi Tenun Desa Troso (sekitar 1,5 km sebelah barat Desa Pecangaan). Kegiatan tersebut berlangsung selama tiga tahun. Pada tahun 1968, kegiatan dipindahkan ke gedung milik sendiri hingga tahun 1970. Pada periode ini terjadi perubahan nama menjadi PGAP (Pendidikan Guru Agama Pertama), kemudian menjadi PGAA (Pendidikan Guru Agama Atas).
Pada tahun 1971, PGAA dipindahkan ke Pecangaan dengan pertimbangan lokasi yang lebih strategis di ibu kota kecamatan. Sesuai ketentuan yang berlaku saat itu, pada tahun 1978 PGAP berubah menjadi MMP (Madrasah Menengah Pertama). Sementara PGAA terus berjalan hingga tahun 1979, ketika MMP bertransformasi menjadi Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan PGAA menjadi Madrasah Aliyah (MA) Walisongo.
Keberadaan MA Walisongo semakin kuat secara yuridis setelah dikelola oleh yayasan berbadan hukum. Melalui Akta Notaris J. Moeljani, SH Nomor 100 tanggal 15 Februari 1980, berdirilah Yayasan Walisongo yang berkedudukan di Pecangaan.
Sejak berganti nama menjadi MA Walisongo hingga tahun ke-15, madrasah ini beroperasi dengan status terdaftar. Baru pada usia ke-16, statusnya meningkat menjadi Diakui setelah lulus akreditasi, melalui Surat Keputusan No. SK/Sc/28/Pgm MA/1979 tanggal 31 Oktober 1979.

Perkembangan Selanjutnya
Pada tahun 1993, Yayasan Walisongo membuka program MA Keagamaan sebagai respons terhadap Keputusan Menteri Agama Nomor 37 Tahun 1993 sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat akan pendidikan agama yang lebih mendalam, khususnya penguasaan Kitab Kuning.
Pada tanggal 9 Februari 1998, MA Walisongo memperoleh status Disamakan berdasarkan SK Dirjen Binbaga Agama Islam Nomor E. IV/PP.03.2/KEP/13/1998.
Pada Tahun Pelajaran 2004/2005, dibuka Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) kelas jauh SMKN 2 Jepara dengan program keahlian Kriya Tekstil di lingkungan MA Walisongo. Tahun berikutnya (2005/2006), ditambahkan program keahlian Otomotif sebagai upaya diversifikasi dan menjawab kebutuhan pasar kerja.
Saat ini, SMK Walisongo telah berkembang menjadi unit pendidikan tersendiri di bawah naungan Yayasan Walisongo, setara dengan unit-unit pendidikan lainnya yang dikelola yayasan (seperti MA, MTs, dan Madrasah Diniyah).
Madrasah ini secara konsisten meraih akreditasi terbaik. Pada tahun 2005, memperoleh peringkat A melalui reakreditasi Dewan Akreditasi Madrasah. Akreditasi terakhir sebelumnya pada tahun 2009 juga menghasilkan peringkat A.
Kepemimpinan Madrasah
Hingga saat ini, MA Walisongo Pecangaan telah dipimpin oleh 11 (sebelas) orang Kepala Madrasah secara berurutan sebagai berikut:
- KH. Mahfudh Asynawi (1978–1992)
- Drs. KH. A. Asy’ari Sajid (1992–1995)
- Drs. Abdul Rohman (1995–1998)
- Drs. H. Mahalli Djoefri (1998–2003)
- Drs. KH. A. Asy’ari Sajid (2003–2007)
- Drs. Rohmadi (2007–2008)
- Mulyono, S.IP (2008–2009)
- H. Muwassaun Niam, S.Ag (2009–2011)
- Drs. Rohmadi (2011–2015)
- Drs. Santoso (2015–2023)
- Ainun Najib, S.Pd.I (2023–sekarang)
Kondisi Terkini
Saat ini, MA Walisongo Pecangaan telah menjadi madrasah unggulan di wilayahnya. Madrasah ini kembali meraih Akreditasi A berdasarkan keputusan Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN-S/M) Nomor 1347/BAP-SM/SK/2021 tanggal 8 Desember 2021.
Dengan sejarah panjang, komitmen terhadap kualitas pendidikan, dan adaptasi terhadap kebutuhan zaman, MA Walisongo Pecangaan bersama seluruh unit pendidikan di bawah Yayasan Walisongo terus berupaya melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak mulia, serta mampu bersaing di era modern.